Memuat...

Kamis, 26 Mei 2011

Karakter Orang-Orang Cerdas

Orang yang cerdas adalah mampu menginstropeksi diri dan beramal untuk bekal sesudah mati.” (HR.Tirmidzi)

Menjadi orang yang cerdas dan bergaul dengan orang-orang yang cerdas, akan membawa kepada kebahagiaan dan kemuliaan yang sesungguhnya. Seperti hadits yang tersebut diatas tentang ciri-ciri orang yang cerdas,

Perilaku seseorang tergantung kepada siapa dia berkawan, ketika seorang kawan hanya berorientasi dunia akan membawa  pada karakter yang sama pada kawannya, cenderung semakin terlibat pada urusan dunia yang tak ada batas kepuasannya, hingga lupa dan menjadikan hati lalai dari mengingat Alloh Swt dan lupa bahwa kelak akan ada perhitungan di akhirat, lupa bahwa kelak kita harus punya bekal yang cukup saat menghadap sang pencipta yaitu Alloh Swt.

Dunia memang mempesona, gemerlapnya membuat lalai, penuh tipu daya, dunia memang tempat cobaan, seperti mimpi disiang hari. Ketika ia membuat tertawa sesungguhnya akan membawa tangisan berhari-hari, ketika membuat senang sehari sesungguhnya ia akan menyusahkan bertahun-tahun dan ketika memberi sedikit kenikmatan ia akan menghalangi kenikmatan yang banyak, maka apalah untungnya menjadikan dunia sebagai tumpuan harapan dan menjadi tujuan akhir dari perjalanan hidup.

Menjadi ahli dalam hal teknologi, maju dalam perekonomian bahkan menjadi ahlinya dalam hal apapun sangat dianjurkan, selagi karakter orang cerdas ini di jiwai dan atas dasar ini pulalah hendaknya dalam berkawan dan saling percaya. Sesungguhnya Alloh Swt mempunyai hamba-hamba yang cerdas yaitu hamba-hamba yang tidak mengutamakan dunia karena takut akan fitnahnya.  

Karena tahu bahwa dunia bukan tempat abadi melainkan hanya persinggahan sementara waktu, dunia ibarat samudera luas dan amal shalih sebagai bahtera untuk berlayar mengarunginya. 

Dalam Al-Qur’an surah An-Najm Alloh Swt.berfirman yang  artinya sebagai berikut;

“Maka berpalinglah ( hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan kami, dan tidak ada keinginan kecuali kehidupan duniawi, itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Robb-mu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Najm 29-30)

Seperti itulah karakter orang yang tidak beriman kepada Alloh Swt dan hari akhir, tidak ada keinginan selain kehidupan duniawi karena memang keterbatasan pengetahuannya, puncak pengetahuannya adalah dunia sebab dunia jadi barometernya. Kesenangan dan kesusahan, mulia dan hinanya diukur menurut standar dunia yang memang gemerlap mempesona. Ayat di atas menandakan  betapa picik dan rendahnya pengetahuan mereka, sehebat apapun gelar yang disandangnya dan sepintar apapun pengetahuannya. Alloh Swt menyebut mereka sebagai kaum yang tidak berakal, kaum yang tidak memahami, sebagaimana firman-Nya;

“Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti pengembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan (teriakan) saja. Mereka tuli, bisu,  dan buta. Maka (oleh karena itu) mereka tidak mengerti.”   (QS.Al-Bakoroh 171)

Mereka orang-orang yang tidak beriman dikatakan tidak berakal, tidak memahami, padahal mungkin mereka adalah orang-orang yang pandai, cerdik cendikia, mungkin mereka ini dikalangan manusia adalah orang hebat dengan sederet titel, gelar paling atas, dan mungkin banyak pengikutnya, akan tetapi mereka ini tidak beriman kepada Alloh Swt, tidak mempercayai hari akhirat. Mereka tidak mengetahui selain kehidupan duniawi belaka, mengutamakan dunia yang sementara saja dan lupa serta lalai akan kehidupan akhirat yang kekal abadi. Oleh karena itulah Alloh Swt. Memerintahkan untuk berpaling dari orang-orang seperti ini, tidak tergiur, terpesona bahkan ingin seperti mereka dan tidak berkawan dengan mereka. Sebab bahaya yang akan mereka timbulkan ketika bergaul dengan orang seperti ini.

Orang-orang yang tidak beriman, apabila ia mencintai sesuatu atau membencinya karena nafsu, apabila memberi atau menolak sesuatupun karena nafsu, oleh sebab itu nafsu paling berperan dalam dirinya, nafsu menjadi tuannya dan nafsu lebih ia cintai dari pada ampunan dan Ridho Alloh Swt. Ketika itulah nafsu dijadikan Imam atau pimpinannya, syahwat sebagai komandannya, kebodohan menjadi sopir dan kelalaian sebagai kendaraan tunggangannya. Pikirannya hanya tertuju pada kehidupan semu dunia ini, dibuat mabuk untuk mendapatkannya, tidak lagi mau mendengar nasehat karena termakan oleh bujuk rayu syaiton yang selalu menggodanya.  Maka Menjadi orang yang cerdas dan bergaul dengan orang-orang yang cerdas, akan membawa kepada kebahagiaan dan kemuliaan yang sesungguhnya. Wallohu a’lam………..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar